Blended Learning: Hybrid of Conventional and Electronic Learning

Pengalaman mengimplementasikan elearning bersama tim NCIE di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga sejak 2010, untuk mata kuliah yang jumlah pertemuannya dipersyaratkan 14 kali dapat dikelola dengan pertemuan kelas sebanyak 11 kali dan 3 kali pertemuan elearning seperti tergambarkan pada tabel 1.

Distribusi pertemuan kelas jatuh pada pertemuan ke-1, 2, 3 dan 4 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu pada pertemuan ke-5 diselingi pertemuan elearning dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu.

Dilanjutkan pertemuan kelas pada pertemuan ke-6, 7, 8 dan 9 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu pada pertemuan ke-10 diselingi dengan pertemuan elearning dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu.

Dilanjutkan dengan pertemuan kelas pada pertemuan ke 11, 12, dan 13 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu diselingi pertemuan elearning pada pertemuan ke-14 dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu disamping dosen dan mahasiswa bersama-sama melakukan review terhadap 13 pertemuan yang sudah dilakukan.

Pertemuan elearning biasanya mendiskusikan topik-topik menarik dan kontesktual yang muncul di kelas di mana mahasiswa dipersyaratkan minimal sekali menanggapi topik yang dibawakan oleh dosen dan minimal dua kali merespon tanggapan mahasiswa lainnya. Disamping itu, mahasiswa juga diwajibkan mengerjakan empat quiz secara online di elearning yang jatuh setelah pertemuan kelas ke-3, 7, 10 dan 13. Mahasiswa juga dipersyaratkan untuk mengerjakan UTS secara online setelah paruh pertama semester selesai dan UAS secara online setelah paruh terakir semester selesai.

Tabel 1. Distribusi pertemuan kelas dan elearning

dalam blended learning model NCIE

Minggu Jenis Pertemuan Topik dan Kegiatan Keterangan
1 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
2 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
3 Kelas Quiz Online ke-1 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
4 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
5 Elearning Diskusi Online ke-1 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
6 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
7 Kelas Quiz Online ke-2 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
UTS ONLINE UTS sesuai jadwal dan dilakukan di elearning
8 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
9 Kelas Quiz Online ke-3 Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
10 Elearning Diskusi Online ke-2 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
11 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
12 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
13 Kelas Quiz Online ke-4 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
14 Elearning Diskusi Online ke-3 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
UAS ONLINE UAS sesuai jadwal dan dilakukan di elearning

Paradigma Elearning

Paradigma, model berpikir yang membentuk cara pandang atau cara pikir, selalu hadir dalam setiap aktivitas terutama aktivitas akademik. Para akademisi sering berbeda pendapat sekalipun hal yang diperdebatkan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana. Justru dari perdebatan inilah ilmu pengetahuan berkembang dimana perguruan tinggi terlibat sebagai wahana knowledge production. Seperti diutarakan Kuhn (1996), ilmu pengetahuan awalnya berada dalam satu paradigma yang merupakan konsensus cara memandang dunia dengan mengintrodusir tata cara melakukan penelitian ilmiah dan jenis teori yang bisa diterima secara ilmiah. Dalam perkembanganya, seringkali ilmu pengetahuan menemui anomali yang tidak bisa dijawab dengan satu paradigma yang telah disepakati. Dari sinilah Kuhn mengklaim bahwa telah terjadi sempalan dimana paradigma yang lama harus diganti dengan paradigma baru karena tidak mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya yang terjadi adalah paradigma baru banyak bermunculan, sehingga jawaban terhadap permasalahan yang sederhana sekalipun seringkali tergantung pada paradigma yang dipakai.

Sampai akhir dekade 90-an, perkuliahan cukup dikelola dengan memberlakukan metode pembelajaran mahasiswa aktif seperti CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Lalu mulai tahun 2000-an ramai-ramainya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi. Mahasiswa dikondisikan supaya aktif dengan cara memberikan tugas mandiri terstruktur. Setiap kali pertemuan kelas, mereka tidak sekedar datang dengan tatapan kosong tetapi membawa sejumlah temuan yang akan dikofrontir dengan dosen. Sayang metode nobel (mulia) seperti ini ternyata tidak berjalan dengan maksimal dilevel S1 (strata satu). Mahasiswa seringkali datang dengan tanpa persiapan maksimal bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya datang, duduk, diam dan dengar. Untuk membuat mahasiswa aktif ternyata tidak cukup dengan membangkitkan semangat mahasiswa untuk belajar, namun diperlukan kreatifitas tinggi dari dosen. Untuk itu perlu ada terobosan baru yang membuat perkuliahan attractive (menarik minat mahasiswa) sekaligus entertaining (menyenangkan). Kedua sifat inilah yang mampu membangkitkan minat mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran di kampus secara efektif dan efisien.

Berkat perkembangan teknologi informasi, pada awal tahun 2000-an elearning hadir memberikan pembaharuan pola perkuliahan yang mencengangkan karena berbeda dengan format konvensional berupa pertemuan kelas. Perkuliahan tidak terbatas pada pertemuan di kelas yang berhenti ketika kelas selesai. It is instead a never ending meeting dalam hal ketika pertemuan kelas selesai tidak menghentikan komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, dan komunikasi antar sesama mahasiswa. Kalau pertemuan kelas baru bisa terjadi jika dosen dan mahasiswa sepakat bertemu di tempat dan waktu yang sama (same place and same time) dengan penjadwalan yang kaku (rigid), pertemuan di elearning penjadwalannya lebih fleksibel karena pertemuan bisa terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda (different time and place). Dalam elearning, mahasiswa bisa menemui temannya dan dosennya kapan saja, begitu pula sebaliknya.

Meskipun elearning memiliki kelebihan dibanding kelas konvensional, kehadirannya tidak serta merta diterima dengan mudah dikalangan dosen. Dosen menerima atau menolak elearning tergantung pada paradigma dosen dalam me-manage mata kuliah. Setidaknya ada dua paradigma yang antagonistik (saling bertentangan), yaitu pro status quo dan pro change. Berasal dari istilah Yunani, status quo, yang dalam bahasa Inggris the state in which, berarti keadaan yang sudah ada. Pro status quo berarti setuju dengan keadaan yang sudah ada. Disini, pro status quo dimaksudkan sebagai paradigma dosen yang menerima keadaan yang telah ada berkaitan dengan pola managemen mata kuliah. Bahwa apa yang sudah ada lebih dari cukup dan perlu untuk terus dilanggengkan tanpa perlu menghiraukan adanya perubahan. Tidak diperlukan inovasi karena yang sudah ada selama ini di perkuliahan sudah cukup mencapai indikator perkuliahan yang diinginkan. Karena kenyamanannya dengan keadaan sekarang ini mereka pro status quo sering disebut dengan pro-establishment atau pro-kemapanan. Setiap usaha pembaharuan dicurigai sebagai anti-establishment yang hanya akan mengg2anggu jalannya perkuliahan yang sudah bisa diterima dengan baik oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Pembaharuan hanya akan mengakibatkan destabilitas (destability) kemapanan perkuliahan yang berujung pada konflik (perpecahan). Jika ini terjadi semuanya akan merugi, baik dosen maupun mahasiswa, karena tujuan perkuliahan tidak akan tercapai. Kesimpulannya, pro-status quo menganggap pemberlakuan elearning tidak diperlukan.

Berbeda dengan pro status quo adalah dosen yang memiliki paradigma pro-change atau sering disebut pro-perubahan. Pola atau manajemen perkuliahan yang telah ada selama ini, yang membuat para dosen merasa nyaman, diperlukan adanya inovasi yang bukan dimaksudkan untuk meniadakan perkuliahan konvensional yang ada selama ini tetapi lebih dititikberatkan pada perbaikan pola yang telah ada. Al-muhafadhotu ala al-qodimi al-sholih wa al-akhdu bi al-jadiidi al-ashlaah adalah slogan pro-change ini. Maksudnya, pola konvensional yang sudah lama ada terkait dengan manajemen mata kuliah tetap dipelihara atau dilestarikan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk beradaptasi dengan pola baru yang ternyata banyak memberi manfaat kebaikan terhadap sistem lama. Berbeda dengan pro-status quo yang berpendapat bahwa adopsi sistem baru bisa berdampak pada destabilitas kemapanan, pro-change beranggapan bahwa dampak yang terjadi bukannya destabilitas tetapi dinamika. Pola dinamis itu selalu berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan dunia luar yang berbeda dengan pola statis yang selalu mengidolakan kemapanan terhadap sistem yang ada sekaligus bersikap apatis terhadap perubahan. Bagi dosen yang berparadigma pro-change, mereka akan terus berinovasi supaya perkuliahan benar-benar efektif dan efisien sesuai indikator perkuliahan yang sudah dari awal ditentukan dalam bentuk silabus maupun course outline (satuan acara perkuliahan). Meminjam istilah Durkheim (1893), pro-change berkerja secara “organik” yang tidak hanya sebatas apa yang diperintahkan melainkan juga selalu berinovasi bahkan berimprovisasi terhadap kerjaannya. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo hanya bekerja “mekanik” sesuai dengan yang diperintahkan atasan tanpa pernah berinovasi apalagi berimprovisasi.

Dua paradigma diatas berpengaruh pada perlu tidaknya elearning diberlakukan dalam perkuliahan. Mereka yang pro-change tidak hanya menerima (welcome) tetapi bahkan merayakan (celebrate) kehadiran elearning. Karena elearning menawarkan pembaharuan perkuliahan yang tidak ditemui di model atau metode perkuliahan konvensional. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo yang merasa sudah mapan dengan model atau metode perkuliahan konvensional memandang tidak diperlukannya elearning dengan berbagai alasan yang dicari-cari (misleading reasoning) seperti: (1) elearning akan menggantikan peran dosen, (2) elearning tidak humanis karena pertemuan dosen dan mahasiswa tidak terjadi secara langsung, (3) elearning membuat dosen dan mahasiswa malas masuk kelas dan (4) sudah ada blog mengapa harus repot-repot menggunakan elearning. Resistensi terhadap elearning lebih disebabkan oleh karena dosen tidak mendapatkan informasi yang memadai dan tuntas, sehingga pemahamannya terhadap elearning tidak komprehensif apalagi mengalami sendiri apa sebenarnya elearning itu. Ini yang disebut dengan sikap apatis terhadap perubahan.

“Yang tidak mau berubah akan digilas oleh zaman,” begitu kata orang bijak. Apakah kata-kata ini juga berlaku bagi perguruan tinggi yang tidak mengaplikasikan elearning? Kita bisa mengkilas balik tahun 80-an untuk mengirim pesan tertulis supaya cepat diterima oleh orang yang dituju diperlukan media telegram yang ongkosnya dihitung per-karakter dari kata-kata yang digunakan dalam telegram. Maka pesan yang dikirimkan mesti straightforward (singkat dan tepat). Telegram yang sangat berjasa waktu itu mulai ditinggalkan pada awal 2000-an karena muncul media yang fungsinya sama tetapi bisa menyampaikan pesan lebih cepat ke tempat tujuan dengan ongkos yang sangat murah bahkan gratis, yaitu media SMS. Begitu juga di tahun yang sama wartel (warung telekomunikasi) seperti magnet dengan daya serap yang sangat kuat terutama bagi mereka yang berpisah dari keluarga untuk tetap menjaga komunikasi. Antrian ke wartel begitu mengular ketika masuk pada jam 9 malam sampai dengan pagi hari jam 6 karena tersedianya layanan telepon murah. Mulai tahun 2000-an sudah mulai jarang usaha wartel apalagi sekarang ini hampir tidak ada satupun usaha wartel yang dulu ramai disepanjang jalan yang kita lalui. Maka sejak itu muncullah warnet (warung internet) yang hingga sekarang masih bertahan meskipun lambat laun peran warnet akan digantikan oleh kehadiran smartphone.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan (hukum alam) dan mengikuti perkembangan manusia beserta lingkungan sosialnya. Perubahan dari telegram ke sms dan dari wartel ke warnet inilah yang disebut dengan to turn challenge into opportunity yang berarti perubahan zaman yang selalu menantang dan beresiko itu bisa memberikan peluang dan kesempatan bagi kita untuk berkembang dan maju. Skenario yang sama sangat mungkin terjadi di perguruan tinggi. Ketika asyik dengan metode pembelajaran konvensional dan memberlakukannya apa adanya (take it for granted) tanpa berbenah dengan mengadopsi metode pembelajaran baru yang lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka gilasan sejarah dalam bentuk likuidasi perguruan tinggi hanya menunggu waktu karena para stakeholders tidak tertarik lagi pada perguruan tinggi yang tidak segera berubah dan berbenah. Sebaliknya, perguruan tinggi yang tertantang dengan adanya elearning dan sesegera mungkin mengakamodir tantangan ini kedalam sistem pembelajarannya, maka elearning menjadi kesempatan dan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk dijadikan magnet yang dapat menyerap ketertarikan dan kepentingan para stakeholders.

Pendekatan Konstruksionis Elearning

Elearning menawarkan konsep social constructionist pedagogy (Koohang et.al. 2009: 92) sebagai filsafat pendidikannya. Secara harfiah,  social constructionist pedagogy berarti ilmu pendidikan berkonstruksi sosial. Maksudnya, media elearning mampu membawakan seni mengajar yang mampu mengkreasi pengetahuan bersama-sama. Bahwa bukan hanya dosen tetapi juga mahasiswa sebagai subjek pembelajaran benar-benar mampu mengkreasi pengetahuan, hal yang sulit diterapkan dengan metode konvensional. Konsep social constructionist ini, sebagaimana diulas dalam dokumen aplikasi elearning berbasis Moodle yang bisa diakses di http://moodle.org,  diejawantahkan dalam bentuk empat kegiatan yang interconnected dalam proses pembelajaran elearning. Pertama adalah kegiatan berupa constructivism. Manusia secara aktif mengkonstruksi pengetahuan baru ketika mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Segala hal yang dibaca, dilihat, didengar, dirasa dan disentuh selalu dites/diuji berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Jika sesuai dengan pengetahuan yang ada di otak, maka otak akan membentuk pengetahuan baru. Pengetahuan yang baru terbentuk itu akan semakin kuat ketika bisa digunakan di lingkungan secara luas. Mahasiswa bukan sekedar memori kosong yang secara pasif menyerap informasi baru. Pengetahuan baru tidak akan bisa ditransmisikan ke mahasiswa hanya dengan membaca sesuatu dan mendengarkan seseorang.

Kedua adalah kegiatan didalam elearning yang disebut constructionism. Berbeda dengan constructivism, constructionism menyatakan bahwa belajar itu akan efektif ketika mampu mengkonstruksi sesuatu bagi orang lain supaya bisa mengalaminya. Ini bisa berupa kalimat yang bisa diputar (didengarkan), mengemukakan pendapat di internet hingga hal yang lebih kompleks (rumit) seperti wujud gambar, wujud rumah ataupun paket software/aplikasi. Contohnya, Anda sekarang sedang memperhatikan dan membaca buku ini beberapa kali, dan Anda akan lupa besuk pagi. Tetapi jika Anda mencoba menerangkan ide yang ada di makalah ini kepada teman Anda dalam bahasa Anda sendiri, atau bahkan membuat makalah baru yang menerangkan konsep yang ada di makalah ini, maka bisa jamin bahwa Anda memiliki pemahaman yang baru yang telah terintegrasi dengan ide Anda.

Kegiatan ketiga disebut dengan social constructivism. Ide yang Anda dapatkan lalu diterangkan ke teman lainnya maka saat itu pula sadar atau tidak Anda sedang menciptakan kelompok sosial yang saling belajar satu sama lain, yang bersama-sama menciptakan budaya baru untuk saling mengenal, saling belajar dan saling mengerti. Ketika Anda berada dalam situasi kelompok sosial seperti ini, maka Anda akan selalu mengalami proses pembelajaran kapan saja. Contoh sangat sederhana adalah gelas. Gelas itu bisa dipakai untuk apa saja, tetapi bentuknya memberi pengetahuan tentang kegunaan gelas untuk menampung air minum. Contoh yang lebih kompleks lagi adalah mata kuliah online. Tidak hanya sebutan mata kuliah online membentuk opini mengenai bagaimana mata kuliah online ini di-manage tetapi juga aktifitas dan bahkan teks yang diproduksi oleh kelompok mahasiswa secara keseluruhan akan membantu membentuk bagaimana setiap anggota kelompok itu bertingkahlaku dalam satu kelompok.

Kegiatan keempat disebut dengan aktifitas separate, connected and constructed. Aktivitas keempat ini lebih menonjolkan motivasi mahasiswa dalam berdiskusi. Maksud dari separate adalah situasi ketika mahasiswa bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap objektif dan faktual. Mereka berusaha untuk mempertahankan pendapat dengan menggunakan logika untuk menemukan kelemahan pendapat lawan bicaranya. Sedangkan connected adalah situasi dimana mahasiswa menggunakan pendekatan yang lebih empatik dalam menghadapi perbedaan pendapat yang disebabkan subjektivitas sudut pandang, sehingga tidak perlu sampai menjatuhkan pihak lawan bicara. Dengan cara ini, mahasiswa berusaha mendengarkan dan mengemukakan pertanyaan bukan untuk menunjukkan kelemahan pendapat lawan bicara tetapi lebih sebagai usaha untuk memahami pendapat lawan bicara. Sementara constructed  adalah situasi dimana mahasiswa sensitif terhadap kubu separate tetapi di saat yang sama juga tidak bisa meninggalkan kubu connected. Dengan kata lain, pendekatan constructed ada diantara separate dan connected. Secara umum, pendekatan connected lebih bisa diterima karena bisa menjadi stimulan bagi mahasiswa untuk belajar. Disamping itu, pendekatan empatisnya mampu menyatukan mahasiswa dari latar belakang beragam dan sekaligus mampu merefleksikan keyakinan yang telah lama ada.

Disamping pendekatan konstruktivisme, elearning menawarkan model pembelajaran kontekstual atau kekinian sesuai dengan era digital dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Anak-anak ataupun remaja sekarang bersosialisasi dengan cara-cara yang sangat berbeda dengan orang tuanya. Dalam satu tahun statitiknya bisa mencengangkan kalau diamati: lebih dari 10.000 jam bermain viedogame entah dalam bentuk PS (Play Station) ataupun online game, lebih dari 200.000 pesan dikirim dan diterima baik dalam bentuk instant message ataupun social media seperti YM (Yahoo Messenger), WhatsApp, Skype, Facebook, Line, WeChat dan Twitter, lebih dari 10.000 jam berbicara di telepon, HP (handphone) ataupun voice over internet protocol (VoIP), lebih dari 20.000 jam menonton televisi. Semua ini dilakukan anak-anak atau remaja sebelum mereka lulus dari perguruan tinggi. Mungkin saja karena kesibukan diatas mereka hanya mampu membaca buku 5000 jam dalam setahun (30 menit per-hari).

Tentu saja tidak bijak untuk mengekang mereka dari keasyikan dan kesibukan menikmati layananan yang ada dari teknologi informasi. Mengekang mereka bisa saja dipersepsikan sebagai sikap otoriter yang tidak produktif untuk perkembangan mental dan pendidikan mereka. Karenanya diperlukan cara yang arif dan bijaksana untuk membuat mereka tetap gemar belajar, yaitu mengakomodir kegemaran dan kesukaan mereka terhadap layanan IT dalam sistem pembelajaran berbasis IT. Elearning dengan segenap fitur yang ada mampu mengakomodir kebutuhan anak-anak dan remaja dalam hal teknologi IT kedalam proses belajar mengajar. Yang terjadi, proses belajar mengajar yang akhir-akhir ini terasa menyiksa bagi anak-anak dan remaja karena disampaikan secara monoton oleh guru atau dosen yang tidak memanfaatkan media berbasis IT. Dengan IT pembelajaran menjadi bisa dinikmati karena materi pembelajaran disuguhkan sesuai dengan cara-cara yang mereka gemari dalam menggunakan teknologi informasi ketika bermain game. Intinya, pendekatan kontekstual elearning adalah proses belajar mengajar dengan menggunakan media kekinian yang digemari oleh peserta didik yaitu media digital, bukan media pembelajaran konvensional seperti yang didapatkan oleh pendidik sewaktu menjadi peserta didik puluhan tahun yang lalu.

Domain Afektif Elearning

Tahun 1956, Bloom berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Bloom Taxonomy dimana tujuan pendidikan dan pembelajaran dibagi menjadi tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual seperti pengetahuan dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi dan sikap. Sedangkan ranah psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan motorik/kemampuan fisik seperti berenang dan mengoperasikan mesin.

Dalam konteks pembelajaran berbasis elearning muncul pertanyaan apakah elearning akan mampu menyentuh aspek afektif peserta didik? Pertanyaan ini muncul karena adanya asumsi bahwa proses pembelajaran yang tidak berhadapan langsung dengan pendidik tidak akan dapat menyentuh domain afektif.  Untuk menjawab pertanyaan di atas perlu dipahami lebih dahulu apa yang dimaksud dengan domain afektif dan bagaimana strategi pembelajarannya.

Domain afektif mencakup lima indikator utama yaitu penerimaan (receiving/attending), tanggapan (responding), penghargaan (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by a value or value complex). Receiving adalah kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Responding adalah kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan bersedia untuk menjawab, membantu, mentaati, memenuhi, menyetujui, mendiskusikan, melakukan, termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Valuing adalah kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Organization adalah kemampuan membentuk sistem nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai.  Characterization by a value or value complex adalah kemampuan mengendalikan perilaku berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal, interpersonal dan social.

Secara teoritik, lima indikator kemampuan afektif di atas dikembangkan melalui elearning. Karena dalam elearning tersedia fasilitas untuk memberikan materi (learning resources) dan kegiatan belajar (learning activities) yang menunjang kemampuan afektif. Melalui learning resources, para peserta didik dapat menikmati sajian materi berupa video, kisah-kisah inspiratif dan poster-poster motivatif yang dapat menggugah semangat belajar. Melalui learning activities berupa diskusi, debat, tanya jawab, memberi tanggapan, memberi penilaian dan dinilai, para peserta didik dapat belajar mengembangkan kemampuan intrapersonal, interpersonal, dan sosial mereka.

Disamping learning resources dan activities tersebut, proses pembelajaran melalui elearning itu sendiri sudah mampu membuat peserta didik merasa enjoy karena mereka dapat secara bebas mengekspresikan kemampuan belajarnya dan menikmati fitur-fitur menarik dalam elearning yang tidak didapatkan melalui proses pembelajaran konvensional (tatap muka). Sementara itu, proses penilaian terhadap domain afektif peserta didik dapat dilakukan oleh pendidik melalui penilaian terhadap portofolio, kinerja, sopan santun dalam berbahasa dan berkomunikasi, kedisiplinan, kejujuran, dan kemampuan berkolaborasi di antara para peserta didik.