Paradigma Elearning

Paradigma, model berpikir yang membentuk cara pandang atau cara pikir, selalu hadir dalam setiap aktivitas terutama aktivitas akademik. Para akademisi sering berbeda pendapat sekalipun hal yang diperdebatkan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana. Justru dari perdebatan inilah ilmu pengetahuan berkembang dimana perguruan tinggi terlibat sebagai wahana knowledge production. Seperti diutarakan Kuhn (1996), ilmu pengetahuan awalnya berada dalam satu paradigma yang merupakan konsensus cara memandang dunia dengan mengintrodusir tata cara melakukan penelitian ilmiah dan jenis teori yang bisa diterima secara ilmiah. Dalam perkembanganya, seringkali ilmu pengetahuan menemui anomali yang tidak bisa dijawab dengan satu paradigma yang telah disepakati. Dari sinilah Kuhn mengklaim bahwa telah terjadi sempalan dimana paradigma yang lama harus diganti dengan paradigma baru karena tidak mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya yang terjadi adalah paradigma baru banyak bermunculan, sehingga jawaban terhadap permasalahan yang sederhana sekalipun seringkali tergantung pada paradigma yang dipakai.

Sampai akhir dekade 90-an, perkuliahan cukup dikelola dengan memberlakukan metode pembelajaran mahasiswa aktif seperti CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Lalu mulai tahun 2000-an ramai-ramainya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi. Mahasiswa dikondisikan supaya aktif dengan cara memberikan tugas mandiri terstruktur. Setiap kali pertemuan kelas, mereka tidak sekedar datang dengan tatapan kosong tetapi membawa sejumlah temuan yang akan dikofrontir dengan dosen. Sayang metode nobel (mulia) seperti ini ternyata tidak berjalan dengan maksimal dilevel S1 (strata satu). Mahasiswa seringkali datang dengan tanpa persiapan maksimal bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya datang, duduk, diam dan dengar. Untuk membuat mahasiswa aktif ternyata tidak cukup dengan membangkitkan semangat mahasiswa untuk belajar, namun diperlukan kreatifitas tinggi dari dosen. Untuk itu perlu ada terobosan baru yang membuat perkuliahan attractive (menarik minat mahasiswa) sekaligus entertaining (menyenangkan). Kedua sifat inilah yang mampu membangkitkan minat mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran di kampus secara efektif dan efisien.

Berkat perkembangan teknologi informasi, pada awal tahun 2000-an elearning hadir memberikan pembaharuan pola perkuliahan yang mencengangkan karena berbeda dengan format konvensional berupa pertemuan kelas. Perkuliahan tidak terbatas pada pertemuan di kelas yang berhenti ketika kelas selesai. It is instead a never ending meeting dalam hal ketika pertemuan kelas selesai tidak menghentikan komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, dan komunikasi antar sesama mahasiswa. Kalau pertemuan kelas baru bisa terjadi jika dosen dan mahasiswa sepakat bertemu di tempat dan waktu yang sama (same place and same time) dengan penjadwalan yang kaku (rigid), pertemuan di elearning penjadwalannya lebih fleksibel karena pertemuan bisa terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda (different time and place). Dalam elearning, mahasiswa bisa menemui temannya dan dosennya kapan saja, begitu pula sebaliknya.

Meskipun elearning memiliki kelebihan dibanding kelas konvensional, kehadirannya tidak serta merta diterima dengan mudah dikalangan dosen. Dosen menerima atau menolak elearning tergantung pada paradigma dosen dalam me-manage mata kuliah. Setidaknya ada dua paradigma yang antagonistik (saling bertentangan), yaitu pro status quo dan pro change. Berasal dari istilah Yunani, status quo, yang dalam bahasa Inggris the state in which, berarti keadaan yang sudah ada. Pro status quo berarti setuju dengan keadaan yang sudah ada. Disini, pro status quo dimaksudkan sebagai paradigma dosen yang menerima keadaan yang telah ada berkaitan dengan pola managemen mata kuliah. Bahwa apa yang sudah ada lebih dari cukup dan perlu untuk terus dilanggengkan tanpa perlu menghiraukan adanya perubahan. Tidak diperlukan inovasi karena yang sudah ada selama ini di perkuliahan sudah cukup mencapai indikator perkuliahan yang diinginkan. Karena kenyamanannya dengan keadaan sekarang ini mereka pro status quo sering disebut dengan pro-establishment atau pro-kemapanan. Setiap usaha pembaharuan dicurigai sebagai anti-establishment yang hanya akan mengg2anggu jalannya perkuliahan yang sudah bisa diterima dengan baik oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Pembaharuan hanya akan mengakibatkan destabilitas (destability) kemapanan perkuliahan yang berujung pada konflik (perpecahan). Jika ini terjadi semuanya akan merugi, baik dosen maupun mahasiswa, karena tujuan perkuliahan tidak akan tercapai. Kesimpulannya, pro-status quo menganggap pemberlakuan elearning tidak diperlukan.

Berbeda dengan pro status quo adalah dosen yang memiliki paradigma pro-change atau sering disebut pro-perubahan. Pola atau manajemen perkuliahan yang telah ada selama ini, yang membuat para dosen merasa nyaman, diperlukan adanya inovasi yang bukan dimaksudkan untuk meniadakan perkuliahan konvensional yang ada selama ini tetapi lebih dititikberatkan pada perbaikan pola yang telah ada. Al-muhafadhotu ala al-qodimi al-sholih wa al-akhdu bi al-jadiidi al-ashlaah adalah slogan pro-change ini. Maksudnya, pola konvensional yang sudah lama ada terkait dengan manajemen mata kuliah tetap dipelihara atau dilestarikan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk beradaptasi dengan pola baru yang ternyata banyak memberi manfaat kebaikan terhadap sistem lama. Berbeda dengan pro-status quo yang berpendapat bahwa adopsi sistem baru bisa berdampak pada destabilitas kemapanan, pro-change beranggapan bahwa dampak yang terjadi bukannya destabilitas tetapi dinamika. Pola dinamis itu selalu berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan dunia luar yang berbeda dengan pola statis yang selalu mengidolakan kemapanan terhadap sistem yang ada sekaligus bersikap apatis terhadap perubahan. Bagi dosen yang berparadigma pro-change, mereka akan terus berinovasi supaya perkuliahan benar-benar efektif dan efisien sesuai indikator perkuliahan yang sudah dari awal ditentukan dalam bentuk silabus maupun course outline (satuan acara perkuliahan). Meminjam istilah Durkheim (1893), pro-change berkerja secara “organik” yang tidak hanya sebatas apa yang diperintahkan melainkan juga selalu berinovasi bahkan berimprovisasi terhadap kerjaannya. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo hanya bekerja “mekanik” sesuai dengan yang diperintahkan atasan tanpa pernah berinovasi apalagi berimprovisasi.

Dua paradigma diatas berpengaruh pada perlu tidaknya elearning diberlakukan dalam perkuliahan. Mereka yang pro-change tidak hanya menerima (welcome) tetapi bahkan merayakan (celebrate) kehadiran elearning. Karena elearning menawarkan pembaharuan perkuliahan yang tidak ditemui di model atau metode perkuliahan konvensional. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo yang merasa sudah mapan dengan model atau metode perkuliahan konvensional memandang tidak diperlukannya elearning dengan berbagai alasan yang dicari-cari (misleading reasoning) seperti: (1) elearning akan menggantikan peran dosen, (2) elearning tidak humanis karena pertemuan dosen dan mahasiswa tidak terjadi secara langsung, (3) elearning membuat dosen dan mahasiswa malas masuk kelas dan (4) sudah ada blog mengapa harus repot-repot menggunakan elearning. Resistensi terhadap elearning lebih disebabkan oleh karena dosen tidak mendapatkan informasi yang memadai dan tuntas, sehingga pemahamannya terhadap elearning tidak komprehensif apalagi mengalami sendiri apa sebenarnya elearning itu. Ini yang disebut dengan sikap apatis terhadap perubahan.

“Yang tidak mau berubah akan digilas oleh zaman,” begitu kata orang bijak. Apakah kata-kata ini juga berlaku bagi perguruan tinggi yang tidak mengaplikasikan elearning? Kita bisa mengkilas balik tahun 80-an untuk mengirim pesan tertulis supaya cepat diterima oleh orang yang dituju diperlukan media telegram yang ongkosnya dihitung per-karakter dari kata-kata yang digunakan dalam telegram. Maka pesan yang dikirimkan mesti straightforward (singkat dan tepat). Telegram yang sangat berjasa waktu itu mulai ditinggalkan pada awal 2000-an karena muncul media yang fungsinya sama tetapi bisa menyampaikan pesan lebih cepat ke tempat tujuan dengan ongkos yang sangat murah bahkan gratis, yaitu media SMS. Begitu juga di tahun yang sama wartel (warung telekomunikasi) seperti magnet dengan daya serap yang sangat kuat terutama bagi mereka yang berpisah dari keluarga untuk tetap menjaga komunikasi. Antrian ke wartel begitu mengular ketika masuk pada jam 9 malam sampai dengan pagi hari jam 6 karena tersedianya layanan telepon murah. Mulai tahun 2000-an sudah mulai jarang usaha wartel apalagi sekarang ini hampir tidak ada satupun usaha wartel yang dulu ramai disepanjang jalan yang kita lalui. Maka sejak itu muncullah warnet (warung internet) yang hingga sekarang masih bertahan meskipun lambat laun peran warnet akan digantikan oleh kehadiran smartphone.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan (hukum alam) dan mengikuti perkembangan manusia beserta lingkungan sosialnya. Perubahan dari telegram ke sms dan dari wartel ke warnet inilah yang disebut dengan to turn challenge into opportunity yang berarti perubahan zaman yang selalu menantang dan beresiko itu bisa memberikan peluang dan kesempatan bagi kita untuk berkembang dan maju. Skenario yang sama sangat mungkin terjadi di perguruan tinggi. Ketika asyik dengan metode pembelajaran konvensional dan memberlakukannya apa adanya (take it for granted) tanpa berbenah dengan mengadopsi metode pembelajaran baru yang lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka gilasan sejarah dalam bentuk likuidasi perguruan tinggi hanya menunggu waktu karena para stakeholders tidak tertarik lagi pada perguruan tinggi yang tidak segera berubah dan berbenah. Sebaliknya, perguruan tinggi yang tertantang dengan adanya elearning dan sesegera mungkin mengakamodir tantangan ini kedalam sistem pembelajarannya, maka elearning menjadi kesempatan dan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk dijadikan magnet yang dapat menyerap ketertarikan dan kepentingan para stakeholders.