Domain Afektif Elearning

Tahun 1956, Bloom berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dinamakan Bloom Taxonomy dimana tujuan pendidikan dan pembelajaran dibagi menjadi tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik. Ranah kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual seperti pengetahuan dan keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi misalnya perasaan, nilai, minat, motivasi dan sikap. Sedangkan ranah psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi manipulatif dan keterampilan motorik/kemampuan fisik seperti berenang dan mengoperasikan mesin.

Dalam konteks pembelajaran berbasis elearning muncul pertanyaan apakah elearning akan mampu menyentuh aspek afektif peserta didik? Pertanyaan ini muncul karena adanya asumsi bahwa proses pembelajaran yang tidak berhadapan langsung dengan pendidik tidak akan dapat menyentuh domain afektif.  Untuk menjawab pertanyaan di atas perlu dipahami lebih dahulu apa yang dimaksud dengan domain afektif dan bagaimana strategi pembelajarannya.

Domain afektif mencakup lima indikator utama yaitu penerimaan (receiving/attending), tanggapan (responding), penghargaan (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by a value or value complex). Receiving adalah kemampuan untuk menunjukkan atensi dan penghargaan terhadap orang lain. Responding adalah kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran dan bersedia untuk menjawab, membantu, mentaati, memenuhi, menyetujui, mendiskusikan, melakukan, termotivasi untuk segera bereaksi dan mengambil tindakan atas suatu kejadian. Valuing adalah kemampuan menunjukkan nilai yang dianut untuk membedakan mana yang baik dan kurang baik terhadap suatu kejadian/obyek, dan nilai tersebut diekspresikan dalam perilaku. Organization adalah kemampuan membentuk sistem nilai dan budaya organisasi dengan mengharmonisasikan perbedaan nilai.  Characterization by a value or value complex adalah kemampuan mengendalikan perilaku berdasarkan nilai yang dianut dan memperbaiki hubungan intrapersonal, interpersonal dan social.

Secara teoritik, lima indikator kemampuan afektif di atas dikembangkan melalui elearning. Karena dalam elearning tersedia fasilitas untuk memberikan materi (learning resources) dan kegiatan belajar (learning activities) yang menunjang kemampuan afektif. Melalui learning resources, para peserta didik dapat menikmati sajian materi berupa video, kisah-kisah inspiratif dan poster-poster motivatif yang dapat menggugah semangat belajar. Melalui learning activities berupa diskusi, debat, tanya jawab, memberi tanggapan, memberi penilaian dan dinilai, para peserta didik dapat belajar mengembangkan kemampuan intrapersonal, interpersonal, dan sosial mereka.

Disamping learning resources dan activities tersebut, proses pembelajaran melalui elearning itu sendiri sudah mampu membuat peserta didik merasa enjoy karena mereka dapat secara bebas mengekspresikan kemampuan belajarnya dan menikmati fitur-fitur menarik dalam elearning yang tidak didapatkan melalui proses pembelajaran konvensional (tatap muka). Sementara itu, proses penilaian terhadap domain afektif peserta didik dapat dilakukan oleh pendidik melalui penilaian terhadap portofolio, kinerja, sopan santun dalam berbahasa dan berkomunikasi, kedisiplinan, kejujuran, dan kemampuan berkolaborasi di antara para peserta didik.