Repeated Elearning Training at UIN Jambi

It is not that easy to come back to the same institution to do the same training though for different audiences. Majority of institution I have visited inclined to think that elearning training could be done only once for all periods. It all relies on the manager commitment to speeding up implementing elearning as a current model for teaching and learning at the university. If the manager had been eager to speed it up, he or she surely realizes that the training should have been conducted repeatedly. For this reason, UIN Jambi, a special credit to its LPM director in supportive of Mr. Rector, is of exemplary role for consistently carrying out the training every year since 2015.

A total number of some 300 lecturers had undertaken the training of which 70% have been modelling their teaching and learning with elearning. Those lecturers had been refreshed their elearning pedagogic skills to make sure their elearning competence falls within the LPM quality assurance. As a result, UIN Jambi elearning is among the best three higher education institutions after UIN Banjarmasin and STAIN Parepare, in modelling current teaching and learning at higher education whose teaching and learning traffics hits the top three ranks within the MORA higher education.

Other MORA higher education should have looked at UIN Jambi to learn how effective its elearning implementation is in spite of the fact that demographically the institution location is far from the center of power in Jakarta. In short, implementing elearning is not a matter of demographic location but of commitment. Bravo UIN Jambi.

Implementing elearning at the faculty level

A year ago we came to the IAIN Raden Intan (UIN then) twice, by May and Novemeber 2016, to effortlessly convinced the high ranking staffs to implement elearning. And yes they did it well, at least can be seen from the traffic of its elearning at http://elearning.radenintan.ac.id. Among other elearnings available from out clients, it has the highest number of users, about 26,000.

This week, 19-20 Sept 2017, we come back to the Raden Intan to implement its elearning at the faculty level. Had we ever considered low budget as primary hindrance to implementing elearning? We should have learnt from Fakultas Syariah of the Raden Intan then for it had only a little budget which could only cover a local resource person but had shown convincing approach by inviting NCIE resource person for which it had to provide roundtrip airfare, hotel and of course a bit higher payment. This is all done since they know how fruitful elearning bears for our ‘millennial’ students, a generation born some time in 1990’s.

Again, we are just wondering if the way we teach our students has not changed yet while the students we teach are of millennial generation, a generation that always has a mobile gadget on hand almost all the time. Elearning comes to renew lecturer’s pedagogic skill, a skill that is up to date to current development of ITs.

Back to STAIN Parepare

I would like to start my expression by saying “no change can be done over night” which is “tidak ada perubahan bisa dilakukan satu malam.” If you are eager to the change, you’ve got to be cautious by yourself that it requires patience and compassion. To me, being patient means not hasty, bear thing calmly [diam menghanyutkan] and remain unwavering when faced with adversity, e.g. critique albeit it is bullying sometime. I know it is bitter but the fruit being patient bore is sweet. While compassion would mean that you have strong desire to arrive at the goal you set up for the change to take effect. Having these two characters combined would lead to the fruit of the change albeit it is bitter in the process.

Devising elearning to be a part of current teaching and learning methodology is not that simple. Elearning is of new age experienced currently by young generation called millennial, born some time in 1980’s, while the teacher who wants to use it is of old generation. This shows us that teacher’s mindset is of internal challenge to make use of elearning. If the teacher owns pro-change mindset, he or she is eager to make use of the elearning. In contrast, if the teacher is of status quo, elearning is of no use. It may be regarded as not the essence of the teaching and learning process. The wise thing to uphold would be that teacher who happens to be a part of old generation has to adapt to millennial generation to guarantee his or her teaching and learning model is acceptable. Thus, elearning is unavoidable for current model of teaching and learning.

I came to STAIN PAREPARE two years ago to introduce the lecturers how useful elearning was and convinced them the effectivity elearning would bear to attain at the teaching and learning objective. Unlike over 25 higher education institutions I ever visited, STAIN PAREPARE showed its eagerness to employ the elearning. It is a sort of high tech institution that the employment of technology is not only confined to administrative stuff but more importantly is to teaching and learning process as a core value of higher education. This time, I am coming back to this remote but among mainstream institution to convince its young lecturers of the significance of the elearning. Even though the institution is still STAIN which has low budget, its success in devising technology to teaching and learning is well above well known UINs let alone IAINs.

Again, my message for those implementing elearning at the higher education is to have patience and strong compassion. More particularly, learn how STAIN PAREPARE successfully makes use of it despite low budget.

Blended Learning: Hybrid of Conventional and Electronic Learning

Pengalaman mengimplementasikan elearning bersama tim NCIE di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga sejak 2010, untuk mata kuliah yang jumlah pertemuannya dipersyaratkan 14 kali dapat dikelola dengan pertemuan kelas sebanyak 11 kali dan 3 kali pertemuan elearning seperti tergambarkan pada tabel 1.

Distribusi pertemuan kelas jatuh pada pertemuan ke-1, 2, 3 dan 4 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu pada pertemuan ke-5 diselingi pertemuan elearning dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu.

Dilanjutkan pertemuan kelas pada pertemuan ke-6, 7, 8 dan 9 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu pada pertemuan ke-10 diselingi dengan pertemuan elearning dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu.

Dilanjutkan dengan pertemuan kelas pada pertemuan ke 11, 12, dan 13 dimana elearning difungsikan sebagai pendamping kelas untuk pengayaan materi ajar bagi mahasiswa yang mampu dan untuk remedial bagi mahasiswa yang belum tuntas memahami topik pertemuan yang dibawakan dosen di kelas. Lalu diselingi pertemuan elearning pada pertemuan ke-14 dimana mahasiswa mendiskusikan topik di elearning selama 1 minggu disamping dosen dan mahasiswa bersama-sama melakukan review terhadap 13 pertemuan yang sudah dilakukan.

Pertemuan elearning biasanya mendiskusikan topik-topik menarik dan kontesktual yang muncul di kelas di mana mahasiswa dipersyaratkan minimal sekali menanggapi topik yang dibawakan oleh dosen dan minimal dua kali merespon tanggapan mahasiswa lainnya. Disamping itu, mahasiswa juga diwajibkan mengerjakan empat quiz secara online di elearning yang jatuh setelah pertemuan kelas ke-3, 7, 10 dan 13. Mahasiswa juga dipersyaratkan untuk mengerjakan UTS secara online setelah paruh pertama semester selesai dan UAS secara online setelah paruh terakir semester selesai.

Tabel 1. Distribusi pertemuan kelas dan elearning

dalam blended learning model NCIE

Minggu Jenis Pertemuan Topik dan Kegiatan Keterangan
1 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
2 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
3 Kelas Quiz Online ke-1 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
4 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
5 Elearning Diskusi Online ke-1 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
6 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
7 Kelas Quiz Online ke-2 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
UTS ONLINE UTS sesuai jadwal dan dilakukan di elearning
8 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
9 Kelas Quiz Online ke-3 Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
10 Elearning Diskusi Online ke-2 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
11 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
12 Kelas Sesuai topik Elearning mendampingi pertemuan kelas untuk pengayaan dan remedial
13 Kelas Quiz Online ke-4 Elearning mendampingi pertemuan kelas sekaligus evaluasi secara online
14 Elearning Diskusi Online ke-3 Elearning mengganti pertemuan kelas untuk diskusi online selama 1 minggu
UAS ONLINE UAS sesuai jadwal dan dilakukan di elearning

Photo Album

  • Workshop on Elearning Pedagogic Skills Fakultas Hukum Universitas Janabadra 14 Februari 2017
  • Elearning training at Melbourne Uni
  • Penandatanganan Kerjasama antara Universitas Janabadra dan NCIE
  • NCIE Team
  • Refreshing Elearning Universitas Janabadra
  • Kerjasama NCIE dan IAIN Ternate
  • Workshop on Elearning IAIN Antasari Banjarmasin
  • Workshop on Elearning Universitas Muhammadiyah Parepare
  • Workshop on Elearning DUAL MODE Diktis Kemenag
  • Workshop on Elearning UIN Suska Pekanbaru
  • Workshop on Elearning IAIN Palangkaraya
  • Workshop on Elearning UIN Raden Fatah Palembang
  • Workshop on Elearning Pasca Sarjana IAIN JAMBI
  • Workshop on Elearning UNIVERSITAS JANABADRA
  • Workshop on Elearning STAIN CURUP
  • Workshop on Elearning UIN Ar-Raniry Aceh
  • Workshop on Elearning IAIN JAMBI

Bengkulu

Bengkulu … I’m coming there soon.

On 20-21 August 2016, STAIN CURUP is to run training on elearning for its lecturers. While the budget is so limited that it does not meet the NCIE plan, the STAIN is excited to welcome us owing to the fact that its lecturers have to adapt to the current innovation in learning media we are bringing about. That’s what elearning is. Likewise, we are showing that a limited budget is not an obstacle given that money is not of our commitment. Instead, implementing elearning in a right way is of our tirelessly effort.

We know that among Indonesian lecturers particularly those of Islamic higher education is long held knowledge that elearning is simply assumed to be an electronic learning media by which a lecturer can upload learning materials and a student can download those materials. We are coming to Bengkulu to offer, and therefore, upgrade the local lecturers’ knowledge that elearning is more than that of their previous assumption. Elearning would include activity ranging from learning plan, action and evaluation.

Planning …Yes it is by design that within one semester which is of a class meeting, an elearning meeting and a blended meeting.

Action … A varius learning activity, i.e. dialogue, discussion, assignment, exam and peer-assessment is of fruitful learning experience a student hardly makes in a conventional class meeting.

Evaluation … A lecturer makes evaluation in progress through which a student can follow his/her mark from a variety of evaluation types. More importantly a student can get feedback almost instantly soon after evaluation finished, a learning feature hardly possible in regular class. Thus he/she knows how well he/she made the exam from time to time.

Paradigma Elearning

Paradigma, model berpikir yang membentuk cara pandang atau cara pikir, selalu hadir dalam setiap aktivitas terutama aktivitas akademik. Para akademisi sering berbeda pendapat sekalipun hal yang diperdebatkan dipandang sebagai sesuatu yang sederhana. Justru dari perdebatan inilah ilmu pengetahuan berkembang dimana perguruan tinggi terlibat sebagai wahana knowledge production. Seperti diutarakan Kuhn (1996), ilmu pengetahuan awalnya berada dalam satu paradigma yang merupakan konsensus cara memandang dunia dengan mengintrodusir tata cara melakukan penelitian ilmiah dan jenis teori yang bisa diterima secara ilmiah. Dalam perkembanganya, seringkali ilmu pengetahuan menemui anomali yang tidak bisa dijawab dengan satu paradigma yang telah disepakati. Dari sinilah Kuhn mengklaim bahwa telah terjadi sempalan dimana paradigma yang lama harus diganti dengan paradigma baru karena tidak mampu menjawab perkembangan ilmu pengetahuan. Selanjutnya yang terjadi adalah paradigma baru banyak bermunculan, sehingga jawaban terhadap permasalahan yang sederhana sekalipun seringkali tergantung pada paradigma yang dipakai.

Sampai akhir dekade 90-an, perkuliahan cukup dikelola dengan memberlakukan metode pembelajaran mahasiswa aktif seperti CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Lalu mulai tahun 2000-an ramai-ramainya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi. Mahasiswa dikondisikan supaya aktif dengan cara memberikan tugas mandiri terstruktur. Setiap kali pertemuan kelas, mereka tidak sekedar datang dengan tatapan kosong tetapi membawa sejumlah temuan yang akan dikofrontir dengan dosen. Sayang metode nobel (mulia) seperti ini ternyata tidak berjalan dengan maksimal dilevel S1 (strata satu). Mahasiswa seringkali datang dengan tanpa persiapan maksimal bahkan tidak sedikit dari mereka yang hanya datang, duduk, diam dan dengar. Untuk membuat mahasiswa aktif ternyata tidak cukup dengan membangkitkan semangat mahasiswa untuk belajar, namun diperlukan kreatifitas tinggi dari dosen. Untuk itu perlu ada terobosan baru yang membuat perkuliahan attractive (menarik minat mahasiswa) sekaligus entertaining (menyenangkan). Kedua sifat inilah yang mampu membangkitkan minat mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran di kampus secara efektif dan efisien.

Berkat perkembangan teknologi informasi, pada awal tahun 2000-an elearning hadir memberikan pembaharuan pola perkuliahan yang mencengangkan karena berbeda dengan format konvensional berupa pertemuan kelas. Perkuliahan tidak terbatas pada pertemuan di kelas yang berhenti ketika kelas selesai. It is instead a never ending meeting dalam hal ketika pertemuan kelas selesai tidak menghentikan komunikasi antara dosen dengan mahasiswa, dan komunikasi antar sesama mahasiswa. Kalau pertemuan kelas baru bisa terjadi jika dosen dan mahasiswa sepakat bertemu di tempat dan waktu yang sama (same place and same time) dengan penjadwalan yang kaku (rigid), pertemuan di elearning penjadwalannya lebih fleksibel karena pertemuan bisa terjadi pada waktu dan tempat yang berbeda (different time and place). Dalam elearning, mahasiswa bisa menemui temannya dan dosennya kapan saja, begitu pula sebaliknya.

Meskipun elearning memiliki kelebihan dibanding kelas konvensional, kehadirannya tidak serta merta diterima dengan mudah dikalangan dosen. Dosen menerima atau menolak elearning tergantung pada paradigma dosen dalam me-manage mata kuliah. Setidaknya ada dua paradigma yang antagonistik (saling bertentangan), yaitu pro status quo dan pro change. Berasal dari istilah Yunani, status quo, yang dalam bahasa Inggris the state in which, berarti keadaan yang sudah ada. Pro status quo berarti setuju dengan keadaan yang sudah ada. Disini, pro status quo dimaksudkan sebagai paradigma dosen yang menerima keadaan yang telah ada berkaitan dengan pola managemen mata kuliah. Bahwa apa yang sudah ada lebih dari cukup dan perlu untuk terus dilanggengkan tanpa perlu menghiraukan adanya perubahan. Tidak diperlukan inovasi karena yang sudah ada selama ini di perkuliahan sudah cukup mencapai indikator perkuliahan yang diinginkan. Karena kenyamanannya dengan keadaan sekarang ini mereka pro status quo sering disebut dengan pro-establishment atau pro-kemapanan. Setiap usaha pembaharuan dicurigai sebagai anti-establishment yang hanya akan mengg2anggu jalannya perkuliahan yang sudah bisa diterima dengan baik oleh kalangan dosen maupun mahasiswa. Pembaharuan hanya akan mengakibatkan destabilitas (destability) kemapanan perkuliahan yang berujung pada konflik (perpecahan). Jika ini terjadi semuanya akan merugi, baik dosen maupun mahasiswa, karena tujuan perkuliahan tidak akan tercapai. Kesimpulannya, pro-status quo menganggap pemberlakuan elearning tidak diperlukan.

Berbeda dengan pro status quo adalah dosen yang memiliki paradigma pro-change atau sering disebut pro-perubahan. Pola atau manajemen perkuliahan yang telah ada selama ini, yang membuat para dosen merasa nyaman, diperlukan adanya inovasi yang bukan dimaksudkan untuk meniadakan perkuliahan konvensional yang ada selama ini tetapi lebih dititikberatkan pada perbaikan pola yang telah ada. Al-muhafadhotu ala al-qodimi al-sholih wa al-akhdu bi al-jadiidi al-ashlaah adalah slogan pro-change ini. Maksudnya, pola konvensional yang sudah lama ada terkait dengan manajemen mata kuliah tetap dipelihara atau dilestarikan, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk beradaptasi dengan pola baru yang ternyata banyak memberi manfaat kebaikan terhadap sistem lama. Berbeda dengan pro-status quo yang berpendapat bahwa adopsi sistem baru bisa berdampak pada destabilitas kemapanan, pro-change beranggapan bahwa dampak yang terjadi bukannya destabilitas tetapi dinamika. Pola dinamis itu selalu berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan dunia luar yang berbeda dengan pola statis yang selalu mengidolakan kemapanan terhadap sistem yang ada sekaligus bersikap apatis terhadap perubahan. Bagi dosen yang berparadigma pro-change, mereka akan terus berinovasi supaya perkuliahan benar-benar efektif dan efisien sesuai indikator perkuliahan yang sudah dari awal ditentukan dalam bentuk silabus maupun course outline (satuan acara perkuliahan). Meminjam istilah Durkheim (1893), pro-change berkerja secara “organik” yang tidak hanya sebatas apa yang diperintahkan melainkan juga selalu berinovasi bahkan berimprovisasi terhadap kerjaannya. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo hanya bekerja “mekanik” sesuai dengan yang diperintahkan atasan tanpa pernah berinovasi apalagi berimprovisasi.

Dua paradigma diatas berpengaruh pada perlu tidaknya elearning diberlakukan dalam perkuliahan. Mereka yang pro-change tidak hanya menerima (welcome) tetapi bahkan merayakan (celebrate) kehadiran elearning. Karena elearning menawarkan pembaharuan perkuliahan yang tidak ditemui di model atau metode perkuliahan konvensional. Sebaliknya, mereka yang pro-status quo yang merasa sudah mapan dengan model atau metode perkuliahan konvensional memandang tidak diperlukannya elearning dengan berbagai alasan yang dicari-cari (misleading reasoning) seperti: (1) elearning akan menggantikan peran dosen, (2) elearning tidak humanis karena pertemuan dosen dan mahasiswa tidak terjadi secara langsung, (3) elearning membuat dosen dan mahasiswa malas masuk kelas dan (4) sudah ada blog mengapa harus repot-repot menggunakan elearning. Resistensi terhadap elearning lebih disebabkan oleh karena dosen tidak mendapatkan informasi yang memadai dan tuntas, sehingga pemahamannya terhadap elearning tidak komprehensif apalagi mengalami sendiri apa sebenarnya elearning itu. Ini yang disebut dengan sikap apatis terhadap perubahan.

“Yang tidak mau berubah akan digilas oleh zaman,” begitu kata orang bijak. Apakah kata-kata ini juga berlaku bagi perguruan tinggi yang tidak mengaplikasikan elearning? Kita bisa mengkilas balik tahun 80-an untuk mengirim pesan tertulis supaya cepat diterima oleh orang yang dituju diperlukan media telegram yang ongkosnya dihitung per-karakter dari kata-kata yang digunakan dalam telegram. Maka pesan yang dikirimkan mesti straightforward (singkat dan tepat). Telegram yang sangat berjasa waktu itu mulai ditinggalkan pada awal 2000-an karena muncul media yang fungsinya sama tetapi bisa menyampaikan pesan lebih cepat ke tempat tujuan dengan ongkos yang sangat murah bahkan gratis, yaitu media SMS. Begitu juga di tahun yang sama wartel (warung telekomunikasi) seperti magnet dengan daya serap yang sangat kuat terutama bagi mereka yang berpisah dari keluarga untuk tetap menjaga komunikasi. Antrian ke wartel begitu mengular ketika masuk pada jam 9 malam sampai dengan pagi hari jam 6 karena tersedianya layanan telepon murah. Mulai tahun 2000-an sudah mulai jarang usaha wartel apalagi sekarang ini hampir tidak ada satupun usaha wartel yang dulu ramai disepanjang jalan yang kita lalui. Maka sejak itu muncullah warnet (warung internet) yang hingga sekarang masih bertahan meskipun lambat laun peran warnet akan digantikan oleh kehadiran smartphone.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan (hukum alam) dan mengikuti perkembangan manusia beserta lingkungan sosialnya. Perubahan dari telegram ke sms dan dari wartel ke warnet inilah yang disebut dengan to turn challenge into opportunity yang berarti perubahan zaman yang selalu menantang dan beresiko itu bisa memberikan peluang dan kesempatan bagi kita untuk berkembang dan maju. Skenario yang sama sangat mungkin terjadi di perguruan tinggi. Ketika asyik dengan metode pembelajaran konvensional dan memberlakukannya apa adanya (take it for granted) tanpa berbenah dengan mengadopsi metode pembelajaran baru yang lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran, maka gilasan sejarah dalam bentuk likuidasi perguruan tinggi hanya menunggu waktu karena para stakeholders tidak tertarik lagi pada perguruan tinggi yang tidak segera berubah dan berbenah. Sebaliknya, perguruan tinggi yang tertantang dengan adanya elearning dan sesegera mungkin mengakamodir tantangan ini kedalam sistem pembelajarannya, maka elearning menjadi kesempatan dan sekaligus peluang bagi perguruan tinggi untuk dijadikan magnet yang dapat menyerap ketertarikan dan kepentingan para stakeholders.

Pendekatan Konstruksionis Elearning

Elearning menawarkan konsep social constructionist pedagogy (Koohang et.al. 2009: 92) sebagai filsafat pendidikannya. Secara harfiah,  social constructionist pedagogy berarti ilmu pendidikan berkonstruksi sosial. Maksudnya, media elearning mampu membawakan seni mengajar yang mampu mengkreasi pengetahuan bersama-sama. Bahwa bukan hanya dosen tetapi juga mahasiswa sebagai subjek pembelajaran benar-benar mampu mengkreasi pengetahuan, hal yang sulit diterapkan dengan metode konvensional. Konsep social constructionist ini, sebagaimana diulas dalam dokumen aplikasi elearning berbasis Moodle yang bisa diakses di http://moodle.org,  diejawantahkan dalam bentuk empat kegiatan yang interconnected dalam proses pembelajaran elearning. Pertama adalah kegiatan berupa constructivism. Manusia secara aktif mengkonstruksi pengetahuan baru ketika mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Segala hal yang dibaca, dilihat, didengar, dirasa dan disentuh selalu dites/diuji berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya. Jika sesuai dengan pengetahuan yang ada di otak, maka otak akan membentuk pengetahuan baru. Pengetahuan yang baru terbentuk itu akan semakin kuat ketika bisa digunakan di lingkungan secara luas. Mahasiswa bukan sekedar memori kosong yang secara pasif menyerap informasi baru. Pengetahuan baru tidak akan bisa ditransmisikan ke mahasiswa hanya dengan membaca sesuatu dan mendengarkan seseorang.

Kedua adalah kegiatan didalam elearning yang disebut constructionism. Berbeda dengan constructivism, constructionism menyatakan bahwa belajar itu akan efektif ketika mampu mengkonstruksi sesuatu bagi orang lain supaya bisa mengalaminya. Ini bisa berupa kalimat yang bisa diputar (didengarkan), mengemukakan pendapat di internet hingga hal yang lebih kompleks (rumit) seperti wujud gambar, wujud rumah ataupun paket software/aplikasi. Contohnya, Anda sekarang sedang memperhatikan dan membaca buku ini beberapa kali, dan Anda akan lupa besuk pagi. Tetapi jika Anda mencoba menerangkan ide yang ada di makalah ini kepada teman Anda dalam bahasa Anda sendiri, atau bahkan membuat makalah baru yang menerangkan konsep yang ada di makalah ini, maka bisa jamin bahwa Anda memiliki pemahaman yang baru yang telah terintegrasi dengan ide Anda.

Kegiatan ketiga disebut dengan social constructivism. Ide yang Anda dapatkan lalu diterangkan ke teman lainnya maka saat itu pula sadar atau tidak Anda sedang menciptakan kelompok sosial yang saling belajar satu sama lain, yang bersama-sama menciptakan budaya baru untuk saling mengenal, saling belajar dan saling mengerti. Ketika Anda berada dalam situasi kelompok sosial seperti ini, maka Anda akan selalu mengalami proses pembelajaran kapan saja. Contoh sangat sederhana adalah gelas. Gelas itu bisa dipakai untuk apa saja, tetapi bentuknya memberi pengetahuan tentang kegunaan gelas untuk menampung air minum. Contoh yang lebih kompleks lagi adalah mata kuliah online. Tidak hanya sebutan mata kuliah online membentuk opini mengenai bagaimana mata kuliah online ini di-manage tetapi juga aktifitas dan bahkan teks yang diproduksi oleh kelompok mahasiswa secara keseluruhan akan membantu membentuk bagaimana setiap anggota kelompok itu bertingkahlaku dalam satu kelompok.

Kegiatan keempat disebut dengan aktifitas separate, connected and constructed. Aktivitas keempat ini lebih menonjolkan motivasi mahasiswa dalam berdiskusi. Maksud dari separate adalah situasi ketika mahasiswa bersikukuh pada pendiriannya untuk tetap objektif dan faktual. Mereka berusaha untuk mempertahankan pendapat dengan menggunakan logika untuk menemukan kelemahan pendapat lawan bicaranya. Sedangkan connected adalah situasi dimana mahasiswa menggunakan pendekatan yang lebih empatik dalam menghadapi perbedaan pendapat yang disebabkan subjektivitas sudut pandang, sehingga tidak perlu sampai menjatuhkan pihak lawan bicara. Dengan cara ini, mahasiswa berusaha mendengarkan dan mengemukakan pertanyaan bukan untuk menunjukkan kelemahan pendapat lawan bicara tetapi lebih sebagai usaha untuk memahami pendapat lawan bicara. Sementara constructed  adalah situasi dimana mahasiswa sensitif terhadap kubu separate tetapi di saat yang sama juga tidak bisa meninggalkan kubu connected. Dengan kata lain, pendekatan constructed ada diantara separate dan connected. Secara umum, pendekatan connected lebih bisa diterima karena bisa menjadi stimulan bagi mahasiswa untuk belajar. Disamping itu, pendekatan empatisnya mampu menyatukan mahasiswa dari latar belakang beragam dan sekaligus mampu merefleksikan keyakinan yang telah lama ada.

Disamping pendekatan konstruktivisme, elearning menawarkan model pembelajaran kontekstual atau kekinian sesuai dengan era digital dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional. Anak-anak ataupun remaja sekarang bersosialisasi dengan cara-cara yang sangat berbeda dengan orang tuanya. Dalam satu tahun statitiknya bisa mencengangkan kalau diamati: lebih dari 10.000 jam bermain viedogame entah dalam bentuk PS (Play Station) ataupun online game, lebih dari 200.000 pesan dikirim dan diterima baik dalam bentuk instant message ataupun social media seperti YM (Yahoo Messenger), WhatsApp, Skype, Facebook, Line, WeChat dan Twitter, lebih dari 10.000 jam berbicara di telepon, HP (handphone) ataupun voice over internet protocol (VoIP), lebih dari 20.000 jam menonton televisi. Semua ini dilakukan anak-anak atau remaja sebelum mereka lulus dari perguruan tinggi. Mungkin saja karena kesibukan diatas mereka hanya mampu membaca buku 5000 jam dalam setahun (30 menit per-hari).

Tentu saja tidak bijak untuk mengekang mereka dari keasyikan dan kesibukan menikmati layananan yang ada dari teknologi informasi. Mengekang mereka bisa saja dipersepsikan sebagai sikap otoriter yang tidak produktif untuk perkembangan mental dan pendidikan mereka. Karenanya diperlukan cara yang arif dan bijaksana untuk membuat mereka tetap gemar belajar, yaitu mengakomodir kegemaran dan kesukaan mereka terhadap layanan IT dalam sistem pembelajaran berbasis IT. Elearning dengan segenap fitur yang ada mampu mengakomodir kebutuhan anak-anak dan remaja dalam hal teknologi IT kedalam proses belajar mengajar. Yang terjadi, proses belajar mengajar yang akhir-akhir ini terasa menyiksa bagi anak-anak dan remaja karena disampaikan secara monoton oleh guru atau dosen yang tidak memanfaatkan media berbasis IT. Dengan IT pembelajaran menjadi bisa dinikmati karena materi pembelajaran disuguhkan sesuai dengan cara-cara yang mereka gemari dalam menggunakan teknologi informasi ketika bermain game. Intinya, pendekatan kontekstual elearning adalah proses belajar mengajar dengan menggunakan media kekinian yang digemari oleh peserta didik yaitu media digital, bukan media pembelajaran konvensional seperti yang didapatkan oleh pendidik sewaktu menjadi peserta didik puluhan tahun yang lalu.